Bulan Ramadan bukan berarti aktivitas fisik anak harus berhenti total. Bagi anak-anak yang hobi berolahraga atau atlet cilik, tantangan utama adalah menjaga keseimbangan antara asupan energi, hidrasi, dan waktu istirahat.
Berikut adalah panduan praktis mengatur pola makan agar anak tetap bugar, aktif, dan kuat menjalani ibadah puasa.

1. Strategi Sahur: Fokus pada Karbohidrat Kompleks
Sahur adalah “bahan bakar” utama anak untuk melewati hari. Hindari makanan yang terlalu manis di waktu sahur karena dapat menyebabkan lonjakan gula darah yang cepat turun (bikin cepat lapar).
- Karbohidrat Kompleks: Berikan nasi merah, oatmeal, atau roti gandum yang memberikan energi secara bertahap.
- Protein Berkualitas: Telur, dada ayam, atau ikan sangat penting untuk perbaikan otot setelah berolahraga.
- Serat: Sayuran dan buah-buahan membantu anak merasa kenyang lebih lama.
2. Hidrasi Pintar (Aturan 2-4-2)
Anak yang aktif kehilangan banyak cairan melalui keringat. Untuk mencegah dehidrasi, gunakan pola minum 2-4-2:
- 2 Gelas saat berbuka.
- 4 Gelas sepanjang malam (setelah tarawih hingga sebelum tidur).
- 2 Gelas saat sahur.
- Tips: Tambahkan buah tinggi air seperti semangka atau mentimun.
3. Pilih Waktu Olahraga yang Tepat
Mengatur jadwal sangat krusial. Disarankan anak melakukan olahraga dengan intensitas sedang pada:
- Sore hari (Ngabuburit): Sekitar 30–60 menit sebelum berbuka agar cairan yang hilang bisa segera diganti.
- Setelah Tarawih: Jika intensitas olahraga cukup tinggi (misal: latihan basket atau sepak bola).
4. Menu Berbuka: Pemulihan Cepat
Saat berbuka, fokus utama adalah mengembalikan kadar gula darah dan cairan tubuh dengan cepat.
- Tahap 1: Awali dengan air putih dan takjil alami seperti kurma (sumber glukosa alami yang cepat diserap).
- Tahap 2: Makan besar setelah salat Maghrib dengan komposisi gizi seimbang (Karbohidrat + Protein + Lemak Sehat).
- Hindari: Gorengan berlebih dan minuman bersoda karena dapat menyebabkan gangguan pencernaan saat berolahraga malam hari.
5. Perhatikan Tanda Tubuh
Sangat penting bagi orang tua untuk memantau kondisi anak. Segera minta anak berhenti jika mereka merasa:
- Pusing atau pandangan berkunang-kunang.
- Lemas yang ekstrem.
- Mulut sangat kering.

Dengan pengaturan nutrisi yang tepat dan pemilihan waktu latihan yang pas, anak tetap bisa meraih prestasi olahraga sekaligus menjalankan ibadah puasa dengan ceria.
